Hi guys,
Jadi sebenarnya sih pengen ikut nulis random ala kak
Mega rambang dan kk fina. Tetapi ya gitu deh.. hahaha
Nah kali ini aku mau nulis hal yang ‘sangat amat’
random.
Sore ini boss kami ngasi tau ke pegawainya satu per
satu.
“Besok kita gg usah olahraga, tapi kita kerja bakti
ya!”
“dimana bu? di provinsi apa disini?”
“disini”
“ooh ada apa ya bu?” (pertanyaan ini timbul karena
selama dua tahun aku disini baru kali ini mau ada kerja bakti)
“ada Pak Suryamin (read BPS-RI 1), kalau saja dia
datang kesini”
“ooooo”
Obrolannya mirip sama yang awak baca semalam
tentang gairah kerja. Hmmmpp sudah banyaklah yang bilang “semangaaaat” atau “jangan
ngeluh, bersyukur udah punya kerjaan toh”.
Yaps aku sangat bersyukur dengan pekerjaan yang aku
miliki, namun salahkah kita kalau sekedar cerita ketika lelah karena
menumpuknya pekerjaan? Atau ketika kita mempunyai harapan A, B , C dan
lain-lain, apakah dianggap bahwa kita enggak bersyukur dengan pekerjaan kita
saat ini? – ya Semoga saja saat ini saya bukan mencari pembenaran diri, kalau-kalau
ternyata saya memiliki cara pandang dan cara bersyukur yang berbeda atau
mungkin salah... CMIIW dong!!!
Eittssss jadi agak melenceng sejenak tadi ya, tapi
ada kaitannya kok. Itu semacam pendahuluan gitu lah ya. Hehehe
Kembali inti permasalahan tentang Gairah Kerja.
Jadi beberapa hari ini rasanya aku terkaget dengan
pekerjaan yang bikin pusing kepala dan jujur saja ini melelahkan. Permasalahannya
bukan dipekerjaan itu sih, menyadari ini disebabkan karena kurang gairah/
kurang semangat, dan rasa terpaksa. Merasa ini adalah beban tugas. Salah sekali
bukan kalau kita mengatakan pekerjaan itu adalah beban tugas dan kewajiban (begitulah
kata buku yang aku baca). – karena kata beban itu akan membebanimu dan
membuatmu letih bukan hanya badan tapi jiwa.
--- Teringat buku yang diberikan PPO Hosanna “Maksimalkan
hidup Anda”. Aku membaca bagian depan buku yang ada tulisan tangan dari
teman-teman dr PPO Hosanna, manis dan sedap dilihat—salah satunya adalah “berikan
yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu takkan pernah cukup. Tetapi terus
berikanlah yang terbaik”.
Bagaimana bisa kita memberikan yang terbaik jika
tidak ada gairah yang memicunya. Dan buku ini menggambarkan bahwa gairah itulah
yang memberikan hasil yang baik dan maksimal. Gairah seperti apa yang
dimaksud??
Gairah yang dimaksud adalah gairah menyenangkan
Tuhan. Sering sekali bukan kita mendengar kalimat itu?—sering, tapi tak sering
kita lakukan.
Kembali ke obrolan di awal cerita ini, di situ
dipertegas bahwa akan ada kunjungan Kepala BPS dan kita mesti merapihkan kantor
serta isinya. Bekerja karena ingin dilihat atasan, bekerja karena tidak ingin evaluasi
jelek – ada hukuman sosial disitu, seakan gagal jika evaluasi yang ditampilkan
jelek.
Di buku ada perbedaan cara pandang kita tentang
motivasi kerja yg seharusnya kita tanamkan di kepala kita (bukan mau promosi
buku ni ya, kalau mau baca ya belilah hehehe). Contoh cara pandang yg berbeda
itu dilakukan oleh perempuan London yang
membersihkan rumah-rumah bertahun-tahun. Ketika dia memasuki setiap rumah, ia
akan berpaling kepada asistennya dan berkata “Marilah kita membersihkan rumah
ini seperti Yesus akan menginap di sini malam ini”.
Lainnya
“Marilah kita menjalankan bisnis kita seakan-akan
Yesus akan menjadi tamu kehormatan”
‘Kolose 3:23-24’ Apapun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu
tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu
sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.
Carpe Diem “ Raihlah Hari Ini” – Carpe Deum “Raihlah Tuhan” – Dan Jangan
Biarkan hari itu berlalu.