Kamis, 04 Juni 2015

-SEMANGKAAAAA-

Hi guys,
Jadi sebenarnya sih pengen ikut nulis random ala kak Mega rambang dan kk fina. Tetapi ya gitu deh.. hahaha
Nah kali ini aku mau nulis hal yang ‘sangat amat’ random.
Sore ini boss kami ngasi tau ke pegawainya satu per satu.
“Besok kita gg usah olahraga, tapi kita kerja bakti ya!”
“dimana bu? di provinsi apa disini?”
“disini”
“ooh ada apa ya bu?” (pertanyaan ini timbul karena selama dua tahun aku disini baru kali ini mau ada kerja bakti)
“ada Pak Suryamin (read BPS-RI 1), kalau saja dia datang kesini”
“ooooo”

Obrolannya mirip sama yang awak baca semalam tentang gairah kerja. Hmmmpp sudah banyaklah yang bilang “semangaaaat” atau “jangan ngeluh, bersyukur udah punya kerjaan toh”.
Yaps aku sangat bersyukur dengan pekerjaan yang aku miliki, namun salahkah kita kalau sekedar cerita ketika lelah karena menumpuknya pekerjaan? Atau ketika kita mempunyai harapan A, B , C dan lain-lain, apakah dianggap bahwa kita enggak bersyukur dengan pekerjaan kita saat ini? – ya Semoga saja saat ini saya bukan mencari pembenaran diri, kalau-kalau ternyata saya memiliki cara pandang dan cara bersyukur yang berbeda atau mungkin salah... CMIIW dong!!!
Eittssss jadi agak melenceng sejenak tadi ya, tapi ada kaitannya kok. Itu semacam pendahuluan gitu lah ya.  Hehehe
Kembali inti permasalahan tentang Gairah Kerja.
Jadi beberapa hari ini rasanya aku terkaget dengan pekerjaan yang bikin pusing kepala dan jujur saja ini melelahkan. Permasalahannya bukan dipekerjaan itu sih, menyadari ini disebabkan karena kurang gairah/ kurang semangat, dan rasa terpaksa. Merasa ini adalah beban tugas. Salah sekali bukan kalau kita mengatakan pekerjaan itu adalah beban tugas dan kewajiban (begitulah kata buku yang aku baca). – karena kata beban itu akan membebanimu dan membuatmu letih bukan hanya badan tapi jiwa.
--- Teringat buku yang diberikan PPO Hosanna “Maksimalkan hidup Anda”. Aku membaca bagian depan buku yang ada tulisan tangan dari teman-teman dr PPO Hosanna, manis dan sedap dilihat—salah satunya adalah “berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan itu takkan pernah cukup. Tetapi terus berikanlah yang terbaik”.  
Bagaimana bisa kita memberikan yang terbaik jika tidak ada gairah yang memicunya. Dan buku ini menggambarkan bahwa gairah itulah yang memberikan hasil yang baik dan maksimal. Gairah seperti apa yang dimaksud??
Gairah yang dimaksud adalah gairah menyenangkan Tuhan. Sering sekali bukan kita mendengar kalimat itu?—sering, tapi tak sering kita lakukan.

Kembali ke obrolan di awal cerita ini, di situ dipertegas bahwa akan ada kunjungan Kepala BPS dan kita mesti merapihkan kantor serta isinya. Bekerja karena ingin dilihat atasan, bekerja karena tidak ingin evaluasi jelek – ada hukuman sosial disitu, seakan gagal jika evaluasi yang ditampilkan jelek.
Di buku ada perbedaan cara pandang kita tentang motivasi kerja yg seharusnya kita tanamkan di kepala kita (bukan mau promosi buku ni ya, kalau mau baca ya belilah hehehe). Contoh cara pandang yg berbeda itu dilakukan  oleh perempuan London yang membersihkan rumah-rumah bertahun-tahun. Ketika dia memasuki setiap rumah, ia akan berpaling kepada asistennya dan berkata “Marilah kita membersihkan rumah ini seperti Yesus akan menginap di sini malam ini”.
Lainnya
“Marilah kita menjalankan bisnis kita seakan-akan Yesus akan menjadi tamu kehormatan”

‘Kolose 3:23-24’ Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Carpe Diem “ Raihlah Hari Ini”  – Carpe Deum “Raihlah Tuhan” – Dan Jangan Biarkan hari itu berlalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar